AYAM BAKAR 'SELERA NYONYA' BIKIN MELELEH...



Beberapa waktu yang lalu, saya diundang oleh salah satu siswa saya (alumni), untuk icip-icip di warung makannya. Mungkin, bagi warga Pangandaran sudah tidak asing lagi, ya... Ayam Bakar 'Selera Nyonya'.  Seneng banget dong saya, secara diminta untuk review, yang artinya bakal nyobain pastinya (kalau lagi gini, dijamin senyum saya maniiis banget, gak percaya?, nih, hehe...).

Singkatnya, saya datang ke situ, sengaja gak makan dulu (lha... wong diundang ke rumah makan), maksudnya sih biar maksimal aza reviewnya (ngeles, haha), jadi rasa dan sajiannya bisa tereksplor sempurna (ketawa lagi ah, hahaha...). Yang jelas sih, apapun alasannya, intinya saya makan. 

Begitu saya datang, Widyo (pemilik warung makan) menyambut saya dengan hangat, maksudnya, dianya bawa segelas teh hangat, yang langsung disuguhkan di depan saya. Lantas, kita pun terlibat pembicaraan seputar bisnis dan kabar-kabari. Jujur, saya senang, bisa melihat siswa saya mandiri dan menjadi enterpreneur muda. (Semangat ya Wid!)

Nah, pas kita ngobrol-ngobrol inilah, sesuatu yang ditunggu-tunggu, mulai terlihat penampakannya, seorang pelayan dengan sigap menyuguhkan menu andalan di rumah makan ini, ayam bakar. Sejenak pembicaraan kami terhenti, karena konsentrasi saya mulai terpecah, apalagi, seketika cacing-cacing di perut saya seperti dikomando untuk melakukan konser bersama, ramai, riuh, gempita, tak sabar meminta jatahnya. Mata saya menangkap sepotong daging ayam yang cukup besar dengan warna yang sangat mengoda. Aroma bakaran yang semriwiiing... pun langsung menabrak hidung saya, yang segera terkoneksi dengan simpul saraf di otak, memerintahkan tangan untuk segera menyendok nasi dan ah... tak sabar ingin menikmati sajian khas tersebut. Mulut seolah tak bisa lagi menunggu untuk mengeksekusi makanan yang ada di hadapan saya. Sabar... sabar... saya cuci tangan dulu, ya...

Rupanya, sang tuan rumah faham, saya pun dipersilahkan menikmati hidangannya. Ok, lets begin, bismillah... Ayam bakar pun mulai saya mutilasi, saya sobek-sobek dagingnya, saya colek-colek pake sambelnya dan... masuk deh ke mulut... Hmm... Its different! Delicious!. Serius, lidah saya mendeteksi rasa yang berbeda... aroma rempah dan manis menyatu dalam empuknya daging, membuat mulut saya benar-benar meleleh... apalagi dengan lalapan segar dan sambel yang mantap, membuat saya tak mau berhenti mengunyah (laper apa doyan?). Yummyy...

Pembicaraan pun berlanjut, topik pun bergeser, kali ini kita ngebahas resep 'Selera Nyonya'. Wuihh... kok bisa sih ayam bakarnya seenak ini? Mau tahu? Menurut Widyo, ayam yang digunakan, harus ayam kampung kemanggang, atau abegeh lah... (tapi bukan abg tua, haha...), biar dagingnya gempal-gempal gimanaaa gitu, dan ada gurih-gurihnya... terus, setelah di sembelih dan dibersihkan, lalu di ungkep dengan bumbu 'tertentu'. Nah, racikan bumbu inilah yang membuat ayam bakar di sini terasa khas, waktu ungkepnya juga optimal, ada standarnya, yang membuat rasa tidak akan berubah. Setelah diungkep, ayam dibiarkan dingin, lalu dilumuri lagi dengan bumbu, kemudian siap dibakar. So, gak heran kalau hasilnya istimewa, saya pun kunyah sampai ke tulang-tulangnya, abisnya bumbunya meresaaaappp...

Ah Widyo, tak terasa, nasi sepiring pun amblas, hehe. Hmm... Pokonya, buat yang suka ayam bakar, Selera Nyonya, recomended deh... boleh banget jadi pilihan untuk makan siang/malam. Boleh juga traktir teman-teman, hehe...

Penasaran?, silahkan datang ke Babakan-Pangandaran, tepatnya depan Cuci Mobil Tirtosari. Dan temukan menu-menu istimewa. Selamat mencoba.




SHARE

Milan Tomic

Hi. I’m Designer of Blog Magic. I’m CEO/Founder of ThemeXpose. I’m Creative Art Director, Web Designer, UI/UX Designer, Interaction Designer, Industrial Designer, Web Developer, Business Enthusiast, StartUp Enthusiast, Speaker, Writer and Photographer. Inspired to make things looks better.

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar